Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan energi panas bumi atau geotermal menyumbang sedikitnya 15 persen dari total energi nasional pada 2050. Target tersebut didorong oleh besarnya potensi geotermal Indonesia yang mencapai sekitar 27-30 gigawatt (GW).

Bahlil meminta pemerintah melalui Direktorat Jenderal terkait segera mendorong pengembangan seluruh wilayah kerja panas bumi yang telah tersedia.

Yang kita pingin untuk bauran energi Ibu Eniya (Direktur Jenderal EBTKE), targetkan aja lah sampai dengan 2050 itu minimal itu 15 persen dari total energi nasional kita,”

kata Bahlil dalam pembukaan Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

Target Realistis 

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong. ((Property of PGE Area Lahendong)

Dia juga menilai target tersebut realistis mengingat Indonesia memiliki potensi geotermal yang besar. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi kendala teknologi dan pembiayaan.

Karena potensi kita masih cukup bagus, hampir 30 gigawatt. 27 sampai 30 gigawatt. Itu cukup besar. Tapi sudah berhenti itu dengan teknologi dan keuangan,”

ujarnya.

Bahlil sebelumnya mengungkapkan Indonesia merupakan negara dengan sumber daya geotermal nomor satu di dunia. Namun, dalam implementasinya Indonesia masih berada di posisi kedua, sementara Amerika Serikat menjadi negara yang berada di posisi pertama.

Karena itu, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk mempercepat pengembangan sektor panas bumi, mulai dari penyederhanaan regulasi hingga pemberian insentif.

Ubah PP dan Perpres

Menteri Bahlil Lahadalia Saat Pidato Dalam Pembukaan Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026, di Jakarta Rabu, 19 Agustus 2026. (Sumber: Owrite/Natania Longdong)
Menteri Bahlil Lahadalia Saat Pidato Dalam Pembukaan Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026, di Jakarta Rabu, 19 Agustus 2026. (Sumber: Owrite/Natania Longdong)

Bahlil mengatakan pemerintah akan mengubah Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Presiden (Perpres) untuk memberikan kemudahan serta insentif bagi bisnis geotermal.

Menurut Bahlil, pengembangan geotermal juga tidak boleh hanya diarahkan untuk pembangkit listrik. Energi panas bumi harus mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian, termasuk membuka lapangan pekerjaan dan mendukung berbagai kegiatan industri.

Jadi jangan persepsi kita bahwa geotermal itu hanya didorong untuk di sektor kelistrikan. Harus ada multiplayer efeknya di situ yang akan kita lakukan,”

imbuh Bahlil.