Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia pada Agustus 2026. Munculnya titik panas dan kabut asap di beberapa daerah menjadi pengingat bahwa karhutla masih menjadi persoalan yang berulang, terutama saat musim kemarau.
Karhutla bukan fenomena baru di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, karhutla kembali jadi di berbagai wilayah dengan tingkat kejadian yang berbeda-beda.
Kondisi cuaca yang lebih kering saat kemarau turut meningkatkan risiko lahan mudah terbakar dan membuat api lebih cepat meluas.
Persoalan karhutla juga tak semata-mata berkaitan dengan faktor cuaca. Aktivitas manusia, kondisi lahan, hingga cara pembukaan dan pengelolaan lahan dapat turut memengaruhi muncul dan meluasnya kebakaran.
Jejak Karhutla di Indonesia
Berdasarkan laporan Indonesia’s Chronic Forest Fires 2023 yang dikutip pada Selasa, 25 Agustus 2026, Indonesia sudah berulang kali menghadapi karhula dalam skala besar. Dari laporan yang diterbitkan Greenpeace Indonesia pada Agustus 2024, periode karhutla 1997–1998 jadi salah satu yang dikenang.
Belasan tahun kemudian, persoalan serupa kembali terlihat pada 2015. Kemudian, karhutla kembali menjadi perhatian besar pada 2019 ketika luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai sekitar 1,65 juta hektare berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Pola tersebut kembali terlihat pada 2023. Setelah kondisi kebakaran relatif lebih rendah pada 2022, luas area terbakar melonjak menjadi sekitar 1,16 juta hektare. Angka tersebut lima kali lebih tinggi dibandingkan 2022.
UN Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) menyebut fenomena El Niño yang menyebabkan kondisi kering berkepanjangan sebagai salah satu faktor yang memperparah kebakaran pada tahun tersebut.
Pada 2024, luas lahan terbakar kembali turun. Data sistem pemantauan karhutla SiPongi mencatat luas lahan terbakar sekitar 105.539 hektare, jauh di bawah angka 2023. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran dapat memberikan hasil ketika dilakukan secara efektif.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan satu pola penting, karhutla dapat mereda pada satu periode, tetapi kembali meningkat ketika kondisi yang mendukung kebakaran muncul.
Karena itu, persoalannya bukan hanya bagaimana menangani kebakaran pada tahun tertentu, melainkan bagaimana mencegah pola yang sama.
Ulah Manusia
Dilansir dari laman Kementerian Lingkungan Hidup RI, musim kemarau yang panjang dan kering membuat vegetasi serta lahan menjadi lebih mudah terbakar. Fenomena El Niño turut memperburuk kondisi pada 2023 dengan menyebabkan periode kering yang lebih panjang.
UNDRR mencatat aktivitas manusia berkontribusi terhadap sekitar 98 persen kebakaran dalam kajiannya mengenai kebakaran Indonesia pada 2023. Faktor sosial dan ekonomi, termasuk penggunaan api sebagai cara yang lebih murah dan mudah untuk membuka lahan turut berperan dalam munculnya kebakaran.
Artinya, musim kemarau mungkin menciptakan kondisi yang lebih mudah memicu dan menyebarkan api, tetapi keberadaan api itu sendiri sering kali berkaitan dengan aktivitas manusia.
Selama ini, penanganan karhutla sering terlihat paling intens ketika api sudah muncul. Langkah tersebut tentu penting, tetapi tidak cukup jika ingin memutus siklus karhutla.
Wilayah yang pernah mengalami kebakaran seharusnya dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi prioritas pada musim kemarau berikutnya. Riwayat kebakaran, data titik panas, kondisi lahan, hingga pola cuaca dapat digunakan untuk memperkuat patroli dan deteksi dini sebelum api membesar.
Dengan demikian, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya dilihat dari seberapa cepat api dapat dipadamkan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah jumlah kebakaran dan luas area yang terbakar dapat terus ditekan dari tahun ke tahun.
Karhutla yang kembali muncul setiap musim kemarau seharusnya menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada pemadaman. Jika kebakaran terus berulang dengan pola yang serupa, maka pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya perlu diubah menjadi dasar untuk memperkuat pencegahan.
Sebab, keberhasilan terbesar dalam pengendalian karhutla bukan ketika kita mampu memadamkan api dengan cepat, melainkan ketika semakin sedikit api yang harus dipadamkan.





