Lombok memang identik dengan pantainya yang eksotis, perbukitan hijau, dan sunset nya yang estetik. 

Tapi kalau kamu mau cari pengalaman liburan yang beda dan out of the box, coba sesekali lirik wisata budayanya. Salah satu tempat yang wajib masuk bucket list kamu adalah Desa Sade.

Terletak di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Desa Sade merupakan permukiman asli Suku Sasak yang sampai detik ini masih teguh memegang teguh tradisi leluhur. 

Merujuk pada laman GoMandalika, desa ini menawarkan kesempatan langka buat kamu menyaksikan dari dekat bagaimana kearifan lokal berpadu dengan kehidupan modern.

Sebelum kamu meluncur ke sana, yuk intip sembilan keunikan Desa Sade yang siap bikin kamu geleng-geleng kepala!

1. Arsitektur Bebas Paku

Begitu menjejakkan kaki di Desa Sade, kamu langsung disuguhi deretan rumah tradisional (bale) yang jauh dari kebanyakan cluster tempatmu tinggal. 

Mengutip dari Lombok Click Holiday, rumah-rumah disana dibangun penuh menggunakan bahan alami seperti kayu, bambu, bedek (anyaman bambu), dan atap alang-alang. 

Kerennya lagi, bangunan ini tidak memakai paku besi sama sekali, melainkan pasak bambu. Sederhana, tapi terbukti tangguh melintasi zaman.

2. Lantai Dilapisi Kotoran Kerbau

Ini dia fakta yang paling sering bikin pengunjung penasaran sekaligus heran. 

Lantai rumah warga Sade rupanya diolesi campuran tanah liat, abu jerami, dan kotoran kerbau atau kuda. 

Eits, jangan bayangkan fisiknya bau atau jorok ya! Campuran bahan alami ini justru berfungsi sebagai perekat organik agar lantai tanah menjadi lebih padat, halus, keras, dan bebas nyamuk. 

Ini jadi bukti nyata bagaimana masyarakat Sade memanfaatkan material sekitar yang super efisien.

3. Pintu Rumahnya Rendah

Saat mau masuk ke dalam bale, kamu pasti menyadari ukuran pintunya yang tergolong pendek dan tanpa jendela. 

Ternyata ada filosofi mendalam di balik design tersebut, setiap tamu yang mau masuk ke rumah secara otomatis harus menundukkan badan. 

Dalam budaya Sasak, gesture menunduk ini melambangkan rasa hormat dan rendah hati kepada sang pemilik rumah.

Sade Terbakar, Warisan Budaya Sasak Dipertaruhkan

Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), bukan hanya menyisakan persoalan kerusakan rumah warga Lanjutkan membaca

4. Pembagian Bangunan Sangat Spesifik

Kawasan permukiman Sade tidak sekadar berisi rumah tinggal. Di sini terdapat tata ruang bangunan dengan fungsi yang sangat spesifik:

  • Berugaq (Sekepat): Saung terbuka tanpa dinding untuk menerima tamu.
  • Sekenam: Bangunan bertiang enam untuk kumpul keluarga, diskusi internal, hingga belajar tata krama.
  • Sambi, Alang, & Lumbung: Bangunan khusus untuk menyimpan hasil panen dan cadangan pangan.

5. Komunitas Suku Sasak yang Kontinu

Masyarakat yang menghuni kawasan tradisional ini 100% merupakan Suku Sasak, penduduk asli sekaligus kelompok mayoritas di Pulau Lombok. 

Mereka tidak cuma berakting untuk keperluan pariwisata, melainkan benar-benar menjalani keseharian menggunakan bahasa daerah, pakaian adat, hingga norma tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

6. Surga Kain Tenun Ikat Khas Lombok

Buat kamu pencinta fashion etnik atau sekadar berburu oleh-oleh unik, Desa Sade adalah tempatnya. 

Para wanita di desa ini piawai menenun kain khas Lombok secara manual. 

Membeli kain tenun langsung dari pengrajinnya tentu jadi pilihan souvenir yang jauh lebih berkesan dan berdampak langsung bagi ekonomi lokal dibanding sekadar membeli keychain biasa.

7. Atraksi Budaya

Kalau beruntung, kunjunganmu bakal disambut dengan pertunjukan seni tradisional yang memukau. Ada Peresean, yaitu seni bertarung ketangkasan antara dua pepadu (petarung) menggunakan tongkat rotan dan perisai kulit.

Selain itu ada juga permainan gangsingan tradisional hingga lantunan musik energik dari Gendang Beleq (gendang berukuran besar).

8. Aturan Pembangunan Rumah yang Ketat

Membangun rumah di Desa Sade tidak bisa sembarangan mengikuti tren arsitektur kekinian. Menurut aturan adat, ada tata cara khusus mengenai arah, ukuran, lokasi, hingga penentuan hari baik berdasarkan penanggalan Sasak. 

Pasangan muda yang baru menikah pun tidak serta-merta bisa menambah bangunan baru jika tidak mendapat warisan lahan. 

Aturan ketat inilah yang membuat lanskap Desa Sade tetap otentik dan terhindar dari komersialisasi berlebih.

9. Etika Kunjungan

Kalau kamu tertarik buat melakukan cultural immersion di Desa Sade, kamu bakal dapat perspektif baru tentang arti kesederhanaan dan kebersamaan. 

Namun perlu diingat, Desa Sade adalah ruang hidup dan tempat tinggal warga, bukan sekadar objek foto. 

Selalu jaga sopan santun, hormati adat setempat, dan pastikan meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambil foto warga maupun area dalam rumah mereka.

Jadi sebenarnya pesona Desa Sade justru terletak pada hal-hal sederhana yang tetap dipertahankan di tengah gempuran modernisasi. 

Kalau kamu itinerary liburanmu ke Lombok sudah penuh dengan daftar pantai, jangan lupa sisihkan waktu setengah hari untuk mampir ke Desa Sade. 

Siapa tahu, dari sudut kampung tradisional ini kamu justru menemukan kehangatan Lombok yang sesungguhnya!