Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia pada Agustus 2026.
Di Kalimantan, peningkatan titik panas terpantau cukup signifikan, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, sebanyak 750 hotspot berkepercayaan tinggi terdeteksi di tiga provinsi tersebut selama 17–19 Agustus 2026.
Kondisi tersebut turut memunculkan kabut asap di sejumlah wilayah. Pada 19 Agustus, misalnya, jarak pandang di Bandara Supadio, Pontianak, tercatat sekitar 1,2 kilometer dalam kondisi berasap.
Di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, jarak pandang bahkan sempat turun hingga sekitar 400 meter.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan jarak pandang dan aktivitas masyarakat. Asap dari kebakaran hutan dan lahan juga dapat membawa partikel serta polutan yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Jutaan Terpapar Asap
Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota pada tujuh provinsi telah terpapar langsung kabut asap karhutla per 21 Agustus 2026. Dampaknya mulai terlihat pada kondisi kesehatan masyarakat.
Di Kalimantan Tengah, misalnya, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan meningkat dari 402 kasus menjadi 716 kasus dalam satu minggu.
Paparan asap tersebut perlu mendapat perhatian karena asap kebakaran tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengandung berbagai polutan yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
Dampak Asap Kebakaran
Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran gas, partikel halus, dan berbagai zat pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Melansir dari laman Halodoc (20 Oktober 2022), berikut beberapa dampak akibat asap kebakaran bagi kesehatan.
- Gangguan Pernapasan. Paparan asap kebakaran dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan munculnya berbagai keluhan, seperti batuk, tenggorokan terasa sakit atau gatal, hidung berair, bersin, hingga sesak napas. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru lainnya, paparan asap juga dapat memperburuk gejala dan memicu kekambuhan.
- Iritasi Mata. Partikel dan zat kimia yang terdapat dalam asap kebakaran dapat mengiritasi mata. Kondisi ini dapat menyebabkan mata terasa perih, berair, merah, gatal, atau terasa seperti ada benda asing di dalam mata.
- Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung. Paparan partikel halus dari asap dapat masuk lebih jauh ke dalam tubuh dan berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Pada orang yang memiliki penyakit jantung atau faktor risiko kardiovaskular, paparan asap dapat memperburuk kondisi.
- Berisiko bagi Ibu Hamil dan Janin. Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah peningkatan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). BBLR merupakan kondisi ketika bayi lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram.
- Risiko Kesehatan Jangka Panjang. Paparan polusi udara dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Sementara itu, paparan asap kebakaran hutan dalam jangka panjang juga berisiko meningkatkan risiko kanker, termasuk kanker paru-paru.
Mengurangi Paparan Asap
Batasi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker yang sesuai ketika harus berada di area yang terdampak asap. Masyarakat juga disarankan memantau kualitas udara secara berkala dan memastikan sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan dan jantung perlu mendapat perhatian lebih karena lebih rentan mengalami dampak kesehatan akibat paparan polusi udara.
Jika muncul keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, batuk yang semakin berat, atau gangguan kesehatan lainnya setelah terpapar asap, segera cari pertolongan medis. Dengan membatasi paparan dan mengenali gejala sejak dini, risiko gangguan kesehatan akibat asap kebakaran dapat diminimalkan.




