Lima mahasiswa Universitas Brawijaya mengembangkan ADAPT-V, rompi pintar berbasis Deep Pressure Therapy (DPT), yang dirancang untuk mendeteksi stres fisiologis secara otomatis pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sekaligus memberikan respons menenangkan untuk meminimalkan risiko tantrum.

Rompi tersebut mengintegrasikan sensor dan kecerdasan buatan (machine learning) untuk membaca kondisi fisiologis serta pola gerakan anak secara real-time. Ketika sistem mendeteksi indikasi anak mulai memasuki fase tantrum, rompi secara otomatis memberikan tekanan terkontrol melalui kantung udara yang terdapat di dalamnya.

Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB Muhammad Nafis Khilmi mengatakan pengembangan ADAPT-V berangkat dari persoalan sensory processing yang kerap dialami anak dengan ASD. Kesulitan memproses rangsangan sensorik dapat memicu respons emosional yang kemudian berkembang menjadi perilaku tantrum.

Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.

“Melalui ADAPT-V, kami menerapkan metode Deep Pressure Therapy (DPT) dengan memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan hangat yang telah terbukti efektif memberikan efek relaksasi,”

ujar Nafis dalam keterangan yang dikutip dari laman Universitas Brawijaya, Jumat, 28 Agustus 2026.

“Pelukan”

Berbeda dengan rompi terapi konvensional yang masih membutuhkan pengaturan tekanan secara manual oleh terapis atau orang tua, ADAPT-V dirancang untuk bekerja secara otomatis.

Ketua tim pengembang, Zakky Yahya dari Program Studi Teknik Elektro UB, mengatakan sistem tersebut memanfaatkan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung dan sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak.

Data dari kedua sensor kemudian dianalisis oleh algoritma Support Vector Machine (SVM) guna mendeteksi secara presisi kapan anak mulai mengalami fase tantrum.

Saat sistem mendeteksi fase tantrum, mikrokontroler ESP32 akan mengaktifkan micro air pump DC untuk mengisi kantung udara di dalam rompi. Tekanan udara kemudian dikendalikan agar tetap berada pada batas yang telah ditentukan.

Anggota tim dari Teknik Elektro, Sugih Rizkiawan, menjelaskan sistem pengendalian tekanan menggunakan algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP.

“Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan. Ketika sistem mendeteksi kondisi emosi anak telah kembali tenang (tidak tantrum), katup solenoid akan terbuka perlahan untuk mengempiskan rompi secara otomatis,”

kata Sugih.

Waktu Nyata

Selain merespons otomatis, ADAPT-V dilengkapi sistem berbasis Internet of Things (IoT). Data aktivitas anak dan respons rompi dikirimkan melalui koneksi Wi-Fi ke aplikasi pada ponsel sehingga orang tua dan terapis dapat memantau kondisi anak secara jarak jauh secara real-time.

Pengembangan ADAPT-V dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dengan bimbingan dosen Teknik Elektro UB, Ir. Nurussa’adah, M.T., dan dosen Kedokteran, DR. dr. Agung Riyanto Budi S, SpOT.

Sementara itu, dosen pembimbing teknis, Ir. Nurussa’adah, M.T., mengatakan aspek keamanan dan keandalan menjadi perhatian dalam pengembangan rompi tersebut.

“Pengembangan ADAPT-V ini melalui tahapan pengujian yang sangat ketat, mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udara. Kami melibatkan evaluasi langsung dari para terapis di lembaga pendidikan inklusif demi menjamin aspek kenyamanan, keamanan medis, serta kemudahan operasional alat saat diaplikasikan langsung pada anak,”

terang Nurussa’adah.

ADAPT-V dikembangkan melalui kolaborasi mahasiswa dari bidang teknik elektro, kedokteran, dan psikologi. Tim berharap teknologi tersebut dapat menjadi alternatif pendukung terapi bagi anak dengan ASD sekaligus membantu orang tua dan terapis memantau kondisi anak dengan lebih cepat.