Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan Ersyah menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumsel meningkat imbas karhutla.

Ersyah menyebut ISPA itu menyasar perempuan dan anak di Kabupaten Ogan Ilir saat karhutla berlangsung.

Beberapa tahun yang lalu ISPA itu tinggi di Kabupaten Ogan Ilir termasuk juga dampaknya terhadap perempuan dan anak,”

kata Ersyah dalam konferensi pers Walhi, Rabu, 26 Agustus 2026.

Menurut Ersyah, meningkatnya kasus ISPA itu berkaitan dengan kebakaran yang terjadi berulang di wilayah Sumatera Selatan.

Dia pun menyinggung PTPN 7 Cinta Manis, perkebunan tebu skala besar milik negara di Kabupaten Ogan Ilir yang disebutnya hampir setiap tahun mengalami karhutla. Ia bilang dari data Walhi, tercatat lebih dari 250 ribu warga Sumsel yang mengalami ISPA.

Untuk data ISPA sendiri di Sumatera Selatan, Walhi mencatat itu ada 259.297 jiwa warga yang mengalami ISPA,”

ujarnya.
Prabowo Klaim Karhutla Mulai Teratasi, Target Semua Api Padam dalam Satu-Dua Pekan ke Depan

Presiden RI Prabowo Subianto mengapresiasi kinerja petugas dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah daerah. Ia menilai respons pemerintah dalam Lanjutkan membaca

Ersyah memperkirakan jumlah warga yang terdampak ISPA masih akan bertambah seiring peristiwa karhutla berlangsung.

Ia menyebut dalam beberapa hari terakhir Sumatera Selatan berada di peringkat pertama dengan kualitas udara tidak baik di Indonesia.

Karena beberapa hari terakhir Sumatera Selatan itu memegang ranking nomor satu udara tidak baik di Indonesia. Dan kita tahu itu bukan polusi dari transportasi, tapi itu dari kebakaran hutan dan lahan,”

kata Ersyah.

Menurut dia, memburuknya kualitas udara akibat karhutla berpotensi perluas dampak kesehatan yang dirasakan masyarakat, termasuk perempuan dan anak.