Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Papua dan mulai mengancam ruang hidup masyarakat. 

Tokoh Pemuda Nabire, Yopiz Pigome menyebut titik kebakaran antara lain berada di sekitar kawasan yang berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan perkebunan kelapa sawit. 

Kalau kebakaran hutan, itu ada di beberapa titik. Jayapura ada, terus Manokwari, Sorong, Nabire, Puncak-Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Merauke,”

kata Yopiz Pigome kepada Owrite, Jumat, 28 Agustus 2026.
Karhutla Kalimantan Bikin Malaysia Protes, Puan Minta Kemlu Segera Turun Tangan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai memicu persoalan lintas negara.Malaysia melayangkan protes karena dampak kebakaran di Indonesia turut dirasakan negara teta Lanjutkan membaca

Menurut Yopiz, kebakaran terjadi di sejumlah lokasi yang disebutnya berkaitan dengan kawasan PSN dan perkebunan kelapa sawit. Ia menyebut kebakaran di Nabire telah mencapai luasan ratusan hektare.

Itu mungkin ada di beberapa tempat, yaitu PSN, kelapa sawit juga, dan Nabire itu, ratusan hektare terbakar,”

akuinya.

Masyarakat Papua Terancam

Dikatakannya, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena hutan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Papua. 

Jadi, dari sisi ini terbongkar bahwa pemerintah itu mereka menyembunyikan usaha-usaha dari kapitalis itu sendiri, yaitu orang-orang tertentu yang masuk secara paksa,”

tegasnya.

Yopiz menilai kerusakan hutan akibat kebakaran dapat mengancam keberlangsungan hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada alam. Hilangnya hutan berarti semakin sempit pula ruang hidup masyarakat Papua.

Jadi, kebakaran hutan ini juga merusak tempat hidup masyarakat Papua karena masyarakat kan hidupnya dari hutan, alam, berburu, terus ambil obat dari hutan. Sisi ini, kebakaran hutan ini harus diperhatikan oleh pemerintah itu sendiri,”

jelasnya.

Lebih jauh dia, kebakaran yang masih berlangsung juga berdampak langsung terhadap kualitas udara. Sejumlah titik api disebut masih belum sepenuhnya padam sehingga asap terus menyelimuti wilayah terdampak.

Jadi, dari kebakaran hutan ini menyebabkan polusi udara, titik api di beberapa titik mungkin masih menyala,”

ucapnya.

Kondisi paling mengkhawatirkan, menurut Yopiz terjadi di Kota Nabire. Kabut asap disebut masih tebal dan mengganggu jarak pandang masyarakat.

Dan kabut asap juga masih tebal hari ini, dapat informasinya kemarin, asap itu membuat jarak pandang hanya dua meter di kota Nabire,”  

pungkasnya.

Yopiz mendesak pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kebakaran hutan di Papua, terutama karena dampaknya tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga kesehatan dan keberlangsungan ruang hidup masyarakat.