Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali klarifikasi perihal pernyataannya terkait kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sebelumnya ramai di media sosial.

Ali menjelaskan pernyataannya soal kondisi karhutla yang tidak separah gambaran di media sosial merujuk wilayah yang ia kunjungi secara langsung yakni Kalimantan Selatan. Klarifikasi itu disampaikan Ali saat ditanya mengenai banyaknya pihak yang kecewa setelah ia menyebut kondisi karhutla tak separah yang ramai beredar di media sosial.

Ah, saya bilang kan yang di Kalimantan Selatan. Cuma di medsos bilangnya ‘Kalimantan’,”

kata Ali di Gedung DPR RI, Jumat, 28 Agustus 2026.

Ali kemudian menegaskan bahwa pernyataannya tak dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi seluruh wilayah Kalimantan.

Sebelumnya, Laksamana TNI Muhammad Ali menyebut kondisi kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Selatan tak separah yang ramai diberitakan di media sosial.

Pernyataan itu disampaikan setelah Ali meninjau langsung kawasan terdampak karhutla di Banjarbaru pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Karhutla Terus Berulang, Greenpeace Sentil Pemerintah: Penegakan Hukum Tak Pernah Tuntas!

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang dinilai tidak lepas dari lemahnya penegakan hukum dan penanganan akar persoalan.  Kepala Global Greenpeace untuk Kampa Lanjutkan membaca

Ali tiba di Banjarbaru sekitar pukul 15.00 WIB. Ia pun melihat langsung kawasan terdampak di Jalan Tegal Arum, Syamsudin Noor, Landasan Ulin.

Dari hasil peninjauan itu, ia menilai kondisi di lapangan berbeda dengan sejumlah unggahan mengenai kabut asap yang sempat viral.

Untuk Kalsel, khususnya Banjarmasin, kita lihat sendiri tidak terlalu parah,”

ujar Ali saat melakukan kunjungan di Kalimantan Selatan, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Ali menyampaikan dirinya mengikuti perkembangan kabut asap yang beredar di media sosial selama dua hari terakhir. Namun, setelah melihat kondisi secara langsung, ia menilai tingkat keparahannya tidak seperti yang tergambar dalam sejumlah unggahan warganet.

Penilaian serupa disampaikan Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin. Ia bilang sudah mengecek langsung lokasi yang disebut mengalami kabut asap pekat dan mendapati kondisi di lapangan tidak separah informasi yang beredar.

Kita meninjau bersama-sama, ternyata tidak parah. Heli pun tidak ada hari ini. Biasanya kalau parah heli itu ada menyiram, ini tidak ada. Artinya tidak parah,”

ujar Muhidin.

Menurut Muhidin, tak beroperasinya helikopter water bombing pada saat peninjauan menjadi salah satu indikator bahwa kondisi kabut asap belum berada pada tingkat yang parah. Meski begitu, ia berharap kabut asap segera berkurang dan tidak meluas ke wilayah lain.

Mudah-mudahan asap bisa segera berkurang,”

tuturnya.