Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya diisi dengan pengajian dan pembacaan shalawat. Di berbagai daerah, masyarakat punya tradisi Muludan yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Tradisi tersebut hadir dalam bentuk yang beragam. Ada masyarakat yang memperingatinya dengan membunyikan alat musik tradisional, mengayun anak, membuat gunungan makanan, hingga mengarak hiasan berisi uang dan hasil bumi.
Keragaman tersebut menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam berpadu dengan kearifan lokal di berbagai wilayah Indonesia. Merangkum dari berbagai sumber, Selasa, 25 Agustus 2026, berikut sejumlah tradisi Muludan yang masih dikenal di berbagai daerah.
- Gerantung, Lombok Utara
Persisnya diperingati oleh masyarakat Desa Dasan Beleq, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Tradisi ini ditandai dengan bunyi alat musik tradisional bernama gerantung yang menggema selama lebih dari 24 jam hingga pergantian 12 Rabiul Awal.
Gerantung merupakan alat musik jenis idiofon yang dibuat dari logam campuran, seperti besi, kuningan, dan perunggu. Dalam perayaan Maulid, bunyi gerantung menjadi bagian penting dari kemeriahan sekaligus menjadi cara masyarakat mempertahankan kesenian tradisional daerah.
- Baayun Maulid, Kalimantan Selatan
Dalam tradisi ini, bayi atau anak-anak diayun oleh orang tua sambil diiringi lantunan syair Maulid. Baayun Maulid jadi bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus sarana bagi orang tua untuk memanjatkan doa bagi anak-anak mereka.

Melalui tradisi tersebut, nilai keagamaan juga diperkenalkan kepada generasi sejak usia dini.
- Ampyang, Kudus
Tradisi Ampyang masih dilestarikan masyarakat Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Perayaan ini ditandai dengan pembuatan gunungan makanan yang dihias menggunakan ampyang, kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Ampyang merupakan kerupuk berbahan tepung yang berbentuk bulat dan memiliki beragam warna. Selain ampyang, makanan khas lain yang biasa hadir dalam tradisi ini adalah nasi kepal yang dibungkus menggunakan daun jati.
Tradisi Ampyang menjadi salah satu bentuk pertemuan antara budaya lokal dan nilai keislaman.
- Bungo Lado, Padang Pariaman
Tradisi ini dilakukan dengan membuat pohon hias yang dipenuhi uang kertas dari berbagai nominal hasil iuran masyarakat. Pohon tersebut kemudian diarak menuju masjid atau surau. Uang yang terkumpul selanjutnya disumbangkan untuk kebutuhan rumah ibadah.
Bungo Lado tidak hanya menjadi bentuk perayaan Maulid Nabi, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan berlomba dalam kebaikan. Masyarakat bersama-sama mengumpulkan dana untuk mendukung kebutuhan masjid, surau, dan kepentingan umat.
- Maudu’ Lompoa, Takalar
Rangkaian perayaan dilakukan sejak sekitar 40 hari sebelum puncak acara. Masyarakat menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari ayam kampung, bakul lontar, padi, kelapa, hingga makanan khas yang disiapkan berdasarkan aturan adat. Pada puncak acara, bakul yang berisi nasi, ayam, telur hias, dan kue tradisional dibawa menuju tepi Sungai Cikoang.
- Coka Iba, Maluku Utara
Salah satu cirinya adalah kehadiran 99 peserta bertopeng yang melambangkan Asmaul Husna. Selain itu, terdapat empat kelompok yang merepresentasikan unsur api, angin, air, dan tanah. Rangkaian Coka Iba dimulai dengan pembacaan Sarafal Anam pada 10 Rabiul Awal dan dilanjutkan dengan pembacaan riwayat Nabi pada 12 Rabiul Awal.
- Male, Jembrana
Perayaan Maulid Nabi juga memiliki bentuk khas di Loloan Timur, Kabupaten Jembrana, Bali. Dalam tradisi ini, telur rebus disusun pada batang pisang atau kerangka kayu dan dihias menjadi berbagai bentuk. Hiasan tersebut dapat menyerupai masjid, rumah, kapal, hingga menara.
Tradisi Male merupakan hasil akulturasi budaya Melayu, Bugis, Makassar, dan Arab yang berkembang di Jembrana.
Beragam tradisi tersebut memperlihatkan kekayaan cara masyarakat Indonesia dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Di sisi lain, keberadaan tradisi Muludan juga memperlihatkan bahwa penyebaran dan pengamalan Islam di Indonesia berkembang berdampingan dengan budaya masyarakat. Nilai keagamaan tetap menjadi bagian utama, sementara kearifan lokal membuat peringatan Maulid memiliki ciri khas di setiap daerah.



