Umat Islam di Indonesia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa, 25 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah.

Peringatan itu jadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW sekaligus kembali mempelajari perjalanan hidup, perjuangan, dan akhlak beliau.

Maulid Nabi diperingati dengan beragam kegiatan keagamaan di berbagai daerah. Kegiatan itu mulai dari pengajian, pembacaan selawat dan zikir, ceramah agama, doa bersama, hingga kegiatan sosial.

Namun, peringatan Maulid tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum ini juga dapat menjadi ruang bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali keteladanan Rasulullah SAW dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi Peringatan Maulid

Secara historis, peringatan Maulid Nabi tidak berlangsung pada masa Rasulullah SAW masih hidup maupun pada masa para sahabat. Tradisi tersebut berkembang beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Melansir laman resmi Baznas Indonesia, 25 Agustus 2026, salah satu catatan sejarah yang banyak dikaitkan dengan perkembangan peringatan Maulid secara besar-besaran terjadi pada masa penguasa Irbil, Muzhaffaruddin Gokbori, pada awal abad ke-7 Hijriah.

Catatan sejarah menyebut peringatan Maulid di Irbil berlangsung pada 604 Hijriah atau sekitar 1207-1208 Masehi.

Dalam peringatan itu, masyarakat berkumpul bersama para ulama dan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seiring perkembangan waktu, Maulid kemudian diperingati dengan beragam bentuk sesuai tradisi masyarakat di berbagai wilayah.

Berpadu dengan Tradisi Lokal

Di Indonesia, peringatan Maulid berkembang seiring dengan penyebaran Islam di Nusantara. Sejumlah sumber mencatat adanya peran Wali Songo dalam memperkenalkan peringatan Maulid sebagai bagian dari pendekatan dakwah di Jawa sekitar 1404 Masehi.

Dalam perkembangannya, tradisi Maulid berakulturasi dengan budaya lokal. Salah satu contoh yang paling dikenal yakni tradisi Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta.

Sekaten berkembang sebagai bagian dari tradisi peringatan Maulid Nabi dengan memasukkan unsur kesenian gamelan dan budaya masyarakat setempat.

Selain Sekaten, masyarakat di berbagai daerah Indonesia punya tradisi masing-masing dalam memperingati Maulid. Sebagian menggelarnya melalui pengajian dan pembacaan selawat. Sementara, lainnya pertahankan tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Denyut Spiritual Rebana: Sejarah dan Perjalanan Alat Musik Islami Penembus Zaman

Suara tabuhan rebana sering terdengar mengiringi lantunan selawat, kasidah, hingga berbagai perayaan keagamaan di Indonesia. Alat musik tradisional berbentuk bundar ini telah menja Lanjutkan membaca

Ragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa peringatan Maulid dapat hadir dalam bentuk yang berbeda. Namun, tetap punya tujuan untuk mengingat Nabi Muhammad SAW dan mengambil pelajaran dari kehidupan beliau.

7 Makna Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan Rasulullah dan menjadikannya sebagai bahan introspeksi. Setidaknya ada sejumlah nilai yang dapat direnungkan.

  1. Menumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah SAW

Mempelajari kehidupan Nabi Muhammad SAW dapat menumbuhkan kecintaan kepada beliau. Kisah Rasulullah memperlihatkan bagaimana beliau menghadapi ujian, memperlakukan keluarga, menyayangi anak-anak, berinteraksi dengan tetangga, memimpin masyarakat, hingga menyampaikan dakwah dengan penuh kesabaran.

  1. Mengingat Perjuangan Rasulullah SAW

Perjalanan Rasulullah SAW tidak terlepas dari berbagai ujian. Membaca kembali sirah Nabawiyah dapat mengingatkan umat Islam mengenai pentingnya kesabaran, keteguhan dan tawakal ketika menghadapi persoalan kehidupan.

  1. Memperbanyak Selawat

Maulid juga menjadi momentum untuk memperbanyak selawat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui selawat, umat Islam diajak untuk terus mengingat Rasulullah sekaligus memohon keberkahan kepada Allah SWT.

  1. Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Nilai terpenting dari mengenang Rasulullah adalah berusaha meneladani akhlaknya. Kejujuran, kesabaran, kepedulian, kasih sayang, amanah dan sikap menghargai sesama merupakan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Meningkatkan Rasa Syukur kepada Allah SWT

Kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi bagian penting dalam sejarah penyampaian risalah Islam kepada umat manusia. Melalui Rasulullah SAW, Allah SWT menyampaikan petunjuk dan ajaran Islam kepada manusia.

Karena itu, Maulid dapat menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur sekaligus memperkuat komitmen dalam menjalankan ajaran agama.

  1. Mempererat Silaturahmi

Berbagai kegiatan Maulid seperti pengajian, pembacaan selawat, makan bersama, santunan dan kegiatan berbagi dapat mempererat hubungan antarmasyarakat.

Semangat kebersamaan tersebut juga sejalan dengan keteladanan Rasulullah SAW dalam membangun kepedulian terhadap sesama.

  1. Menjadikan Sirah sebagai Bahan Introspeksi

Kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW menyimpan berbagai pelajaran mengenai kepemimpinan, keluarga, persahabatan, dakwah, kesabaran hingga cara menghadapi perbedaan.

Dengan mempelajari sirah, umat Islam tidak hanya mengetahui perjalanan Rasulullah, tetapi juga dapat bercermin terhadap sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang bagaimana umat Islam mengenang hari kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, peringatan bisa jadi momentum untuk membawa keteladanan Nabi ke dalam kehidupan nyata.

Nilai tentang kesabaran, kejujuran, kasih sayang, kepedulian dan persaudaraan dapat diterapkan mulai dari lingkungan keluarga, tempat kerja, lingkungan sosial hingga dalam cara memperlakukan orang lain.

Dengan demikian, makna Maulid Nabi tidak berhenti ketika rangkaian pengajian, selawat atau kegiatan peringatan selesai. Semangat untuk meneladani Rasulullah SAW justru diharapkan terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.