Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia tertama Kalimantan kembali jadi sorotan. Peningkatan titik panas atau hotspot terpantau di beberapa wilayah seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Karhutla tak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan. Namun, juga bisa mengganggu aktivitas masyarakat serta berdampak pada kualitas udara dan kesehatan.
Kondisi itu membuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla perlu dilakukan secara terpadu untuk mencegah api meluas.
Dari catatan Owrite, Selasa, 25 Agustus 2026, setidaknya ada enam langkah pemerintah dalam ikhtiar penanganan karhutla di Kalimantan.
- Perkuat Operasi Darat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat operasi darat dan udara di enam provinsi prioritas yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Di Kalimantan, pemantauan juga dilakukan melalui data SiPongi. Pada 21 Agustus 2026 pukul 14.14 WIB, misalnya, data satelit NASA-NOAA 20 yang dipantau melalui SiPongi mencatat 1.842 titik panas di lima provinsi di Kalimantan.
Dari jumlah tersebut, 10 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan 1.832 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang.
Pemantauan diikuti dengan operasi darat berupa patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman, pembasahan dan pendinginan lahan, penyekatan area terbakar, hingga penjagaan lokasi untuk mencegah api kembali muncul.
- Mengerahkan 10.700 Personel
Berdasarkan data yang dirilis Kapolda Kalteng Irjen Iwan Kurniawan saat konferensi pers di Palangka Raya bahwa hingga 24 Agustus 2026, sekitar 10.700 personel gabungan disiagakan untuk menangani karhutla di provinsi tersebut.
Personel tersebut berasal dari BPBD, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, Manggala Agni, pemadam kebakaran, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta kelompok masyarakat seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), TSAK, Balakar, dan Redkar.
- Water Bombing untuk Lokasi Sulit Dijangkau
Di Kalimantan Barat, BNPB menambah dua helikopter water bombing pada 7 Agustus 2026 untuk perkuat pemadaman. Salah satu operasi dilakukan di Kabupaten Kubu Raya.
Sementara, di Kalimantan Selatan, operasi udara pada 23 Agustus 2026 didukung dua helikopter water bombing aktif dari total tiga unit yang disiapkan, ditambah dua armada patroli.
Dua helikopter itu melakukan 243 kali penjatuhan air dengan total 1.029.000 liter air dan menangani sekitar 13 hektare lahan.
- Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Sebelumnya, BNPB juga melaksanakan OMC di wilayah Kalimantan pada 11–18 Agustus 2026. Operasi kemudian dihentikan sementara karena kondisi awan belum mendukung, dengan koordinasi kembali bersama BMKG untuk menentukan waktu pelaksanaan yang lebih efektif.
OMC juga dilakukan di wilayah lain. Di Sumatera Selatan, BNPB menggelar OMC selama tujuh hari, yakni 4–10 Agustus 2026, setelah jumlah hotspot meningkat dari 46 titik pada 2 Agustus menjadi 104 titik pada 3 Agustus. Operasi dikendalikan dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang.
- Pencegahan dan Pengelolaan Lahan Gambut
Penanganan pemerintah tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api. Namun, juga mencegah munculnya titik api baru.
Pada 23 Agustus 2026, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menginstruksikan kepala daerah untuk melarang pembukaan lahan dengan cara membakar tanpa terkecuali. Pemerintah daerah diminta memprioritaskan pemadaman api sekaligus mencegah munculnya titik api baru.
Khusus di Kalimantan Tengah, penguatan pencegahan dilakukan dengan menjaga tata kelola air di lahan gambut. Salah satunya melalui normalisasi kanal untuk menjaga kelembapan gambut sehingga lahan tidak mudah terbakar.
Langkah tersebut disampaikan Dinas Kehutanan Kalteng sebagai bagian dari mitigasi karhutla.
- Bantuan Alat Kesehatan
Pemerintah pusat juga terus mengirimkan dukungan peralatan untuk memperkuat penanganan di lapangan. Per 24 Agustus 2026, bantuan yang telah diterima Kalteng antara lain alat komunikasi, selang hisap, saringan hisap, masker N95, oksigen, APD, dan sepatu untuk personel.
Berbagai langkah itu menunjukkan bahwa penanganan karhutla dilakukan melalui kombinasi deteksi dini, pemadaman darat dan udara, modifikasi cuaca, pengerahan personel, serta pencegahan kebakaran baru.
Pemerintah pusat dan daerah juga masih menghadapi tantangan berupa lokasi kebakaran yang sulit dijangkau, keterbatasan sumber air, serta kebutuhan tambahan sarana pemadaman. Dengan adanya berbagai upaya penanganan ini, semoga karhutla cepat selesai.



