Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan kembali memicu perhatian negara-negara tetangga. Malaysia dan Brunei Darussalam kini sepakat mendorong persoalan kabut asap lintas batas ditangani melalui mekanisme ASEAN.

Langkah tersebut diambil setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi paling mencolok terjadi di Sarawak, wilayah yang berdekatan dengan kawasan Kalimantan.

Kami berdua sepakat bahwa mekanisme ASEAN merupakan opsi terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan untuk menangani persoalan ini,”

kata Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim dalam konferensi pers penutupan kunjungan kerja dua hari di Brunei Darussalam, dikutip dari The Star, Selasa, 25 Agustus 2026.

Anwar mengatakan persoalan kabut asap lintas batas jadi salah satu pembahasan dalam Pertemuan Konsultasi Tahunan Pemimpin ke-27 atau 27th Annual Leaders’ Consultation (ALC-27) bersama Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah pada 22 Agustus 2026.

Menurutnya, Malaysia dan Brunei menilai jalur ASEAN jadi pilihan yang paling tepat untuk cari penyelesaian terhadap persoalan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Anwar bersama delegasi Malaysia tiba di Istana Nurul Iman sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Pertemuan dengan Sultan Hassanal Bolkiah kemudian membahas sejumlah persoalan bilateral dan isu kawasan termasuk kabut asap lintas batas.

Keputusan untuk bawa persoalan itu ke tingkat ASEAN sebenarnya telah disiapkan Malaysia sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pada 21 Agustus lalu mengatakan pemerintah negeri Jiran akan menggunakan jalur diplomatik melalui ASEAN. Mohamad bilang langkah itu untuk mencari solusi atas kabut asap lintas batas yang berdampak pada sejumlah wilayah di kawasan.

Trenggiling Jadi Korban Karhutla, Satwa Langka Ini Ternyata Populasinya Terancam Punah

Seekor trenggiling ditemukan mati saat tim Manggala Agni melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Rabu, 19 Agustus 2026. S Lanjutkan membaca

Dia mengatakan Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia atau Ministry of Natural Resources and Environmental Sustainability (NRES) akan mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN dalam waktu dekat.

API Sarawak Memburuk

Desakan agar persoalan kabut asap dibahas secara regional muncul seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia.

Berdasarkan data portal Air Pollution Index Management System (APIMS), indeks pencemaran udara (API) di Serian, Sarawak, mencapai 190 pada 22 Agustus 2026 pukul 09.00 waktu setempat.

Angka tersebut masuk kategori tak sehat dan mendekati ambang kategori sangat tidak sehat. Bukan hanya Serian, 10 wilayah lainnya juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat.

Kuching mencatat API 182; Samarahan 177; Sarikei dan Sri Aman masing-masing 173; Sibu 161; Bintulu 157; Samalaju dan Mukah masing-masing 156; serta Miri dan Bukit Rambai di Melaka masing-masing 151.

Dalam klasifikasi API Malaysia, angka 0-50 menunjukkan kualitas udara baik. Adapun 51-100 masuk kategori sedang; Angka 101-200 tergolong tidak sehat; 201-300 sangat tidak sehat; sedangkan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.

Memburuknya kualitas udara tersebut kembali menempatkan isu kabut asap lintas batas dalam perhatian negara-negara ASEAN.

Laporan media Malaysia Bernama menyampaikan kabut asap lintas batas kembali jadi sorotan. Sebab, kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia memburuk dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Bernama, dengan Malaysia dan Brunei yang memilih mekanisme ASEAN, persoalan kabut asap kini tidak lagi dilihat dipandang sebagai persoalan antarwilayah. Tapi, jadi isu kawasan yang membutuhkan koordinasi dan respons bersama negara-negara ASEAN.