Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai isu nuklir Iran menuai kritik. Pernyataan tersebut disorot karena dinilai sejalan dengan narasi yang selama ini dikemukakan Israel dan Amerika Serikat mengenai program nuklir Iran.

Pengamat Geopolitik Global Teuku Zulkifli Usman menilai, penyampaian Presiden mengenai isu tersebut berpotensi menimbulkan persoalan diplomatik karena menyentuh isu yang sangat sensitif dalam hubungan internasional.

Pernyataan Presiden soal isu nuklir Iran sangat blunder, dan itu sejalan dengan narasi versi Israel dan Amerika Serikat,”

tulis Zulkifli dikutip dari laman facebook pribadinya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Diterpa Isu Lengser, Presiden Iran Tegaskan Tetap Pimpin Perjuangan

Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah laporan yang menyebut dirinya telah mengajukan pengunduran diri di tengah eskalasi konflik militer dengan Amerika Serikat (AS). Jika saya Lanjutkan membaca

Menurutnya, Indonesia selama ini dikenal menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan berupaya menjaga posisi yang seimbang dalam berbagai konflik internasional. 

Karena itu, ia berpandangan setiap pernyataan kepala negara mengenai isu geopolitik perlu disampaikan secara hati-hati agar tidak memunculkan persepsi bahwa Indonesia berpihak pada salah satu narasi dalam konflik.

Ia juga menilai polemik tersebut mencerminkan perlunya konsistensi dalam penyusunan pesan kebijakan luar negeri, terutama ketika menyangkut isu strategis yang menjadi perhatian dunia.

Ini sekali lagi menjelaskan bahwa Presiden tidak punya visi kebijakan luar negeri yang rapi, dan terkesan sangat asal bicara,”

jelasnya.

Pernyataan Presiden mengenai isu nuklir Iran muncul ketika kawasan Timur Tengah kembali menghadapi ketegangan yang berkaitan dengan konflik regional dan perundingan mengenai program nuklir Iran. 

Sebelumnya, dalam pertemuan dengan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Presiden Prabowo menyinggung meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. 

Ia menyatakan, adanya pandangan bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir dan mengemukakan kekhawatiran bahwa kondisi tersebut dapat mendorong negara-negara lain di kawasan, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Mesir, untuk ikut mengembangkan senjata nuklir. 

Pernyataan itu kemudian memicu perdebatan di ruang publik, sementara Kedutaan Besar Iran di Indonesia kembali menegaskan bahwa program nuklir Iran ditujukan untuk tujuan damai dan berada di bawah pengawasan internasional.