Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS Anis Byarwati mempertanyakan alasan industri keuangan syariah belum optimal dalam perekonomian nasional. 

Pertanyaan itu diajukan kepada calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR, 26 Agustus 2026.

“Menurut Ibu, apa akar masalah terbesar yang membuat industri keuangan syariah belum mampu mengambil porsi lebih besar dalam perekonomian nasional?

” tanya Anis, dikutip pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Dia berpendapat persoalan tersebut berkaitan dengan literasi keuangan syariah rendah, kualitas layanan, hingga tingginya cost of funding. Berbagai hambatan tersebut perlu diselesaikan jika keuangan syariah ingin menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

Anis meminta Destry tidak hanya menjelaskan komitmen BI terhadap pengembangan ekonomi syariah, tetapi juga mengurai persoalan yang selama ini membuat sektor tersebut belum berkembang maksimal.

Percepatan

Parlemen juga mempertanyakan kemungkinan BI menerapkan kebijakan afirmatif untuk mempercepat perkembangan keuangan syariah. Sebab pendekatan tersebut perlu dipertimbangkan jika hambatan yang dihadapi industri tidak cukup diselesaikan hanya melalui kebijakan umum.

“Apakah Ibu melihat perlunya keberpihakan atau affirmative policy dari Bank Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan keuangan syariah?”

kata Anis.

Tak hanya dari sisi kebijakan, Anis mendorong penguatan internal kelembagaan BI agar agenda ekonomi dan keuangan syariah dapat dikawal lebih terarah. Ia mempertanyakan kemungkinan penugasan khusus kepada seorang Deputi Gubernur untuk menangani agenda tersebut.

Anis berujatr pengembangan ekonomi syariah tidak semestinya berhenti pada program atau kebijakan sektoral. Namun, sektor tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi untuk mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Ekonomi syariah adalah sumber dan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,”

tutur Anis.

Kebijakan Inklusif

Calon Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menganggap pertumbuhan ekonomi yang berkualitas harus ditopang kebijakan inklusif agar manfaat tidak berhenti pada kelompok tertentu.

Ia menyebut inklusi dan ekonomi syariah sebagai salah satu kunci untuk mengejar target pertumbuhan tersebut. Pertumbuhan tidak cukup hanya dikejar dari sisi angka, tetapi harus dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Inklusi dan syariah merupakan game changer utama bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen,”

kata Destry dalam fit and proper test.

Ia menilai tantangan perekonomian Indonesia semakin kompleks. Perubahan struktural global ditandai dengan fragmentasi geopolitik, pasar keuangan yang semakin bergejolak, hingga digitalisasi yang membawa risiko baru.