Kalau kamu pikir mengganti gula pasir atau gula putih dengan gula aren, madu, atau gula merah dengan tujuan agar lebih sehat, ternyata ada funfact yang bakal membuatmu tercengang.

Tiga pemanis tersebut memang sering dipersepsikan punya kesan lebih alami dibanding gula putih. Tapi, alami bukan berarti bebas gula. 

Karena kalau dikonsumsi berlebihan, tetap bisa membuat asupan gula harian menumpuk dan mempengaruhi kadar gula darah. Lantas, apa saja pemanis yang sering dianggap lebih sehat tetapi tetap perlu dibatasi?

1. Gula Aren

Gula aren sekarang gampang banget ditemukan, terutama di menu kopi susu kekinian. Rasanya khas, warnanya lebih gelap, dan embel-embel “gula aren” sering bikin minuman terasa lebih sehat.

Padahal, gula aren tetap termasuk gula. Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, gula aren dibuat dari nira pohon aren yang direbus hingga mengental dan mengkristal.

Prosesnya relatif minim pemurnian sehingga masih terdapat sedikit mineral seperti kalium, magnesium, dan zat besi.

Namun, kandungan mineral tersebut jumlahnya kecil. Jadi, jangan sampai label “alami” membuat kamu merasa bebas minum kopi gula aren setiap hari.

Gula aren tetap mengandung sukrosa dan dapat meningkatkan kadar gula darah. Apalagi kalau dikonsumsi dalam bentuk minuman kekinian yang juga berisi susu, krimer, sirup, atau topping lainnya.

Jadi, masalahnya bukan sekadar gula aren vs gula putih, tetapi seberapa banyak gula yang masuk ke tubuh.

2. Madu

Madu juga punya image sebagai pemanis sehat. Makanya, nggak sedikit orang yang memilih madu untuk menggantikan gula pasir, termasuk mereka yang sedang berusaha mengurangi konsumsi gula.

Madu memang mengandung sejumlah senyawa seperti antioksidan, vitamin, dan mineral. Tetapi, madu tetap mengandung gula alami, terutama glukosa dan fruktosa.

Dikutip dari Alodokter, penderita diabetes masih dapat mengkonsumsi madu dalam jumlah terbatas dan sesuai anjuran dokter. Sebab, meskipun indeks glikemiknya bisa lebih rendah dibanding gula pasir, madu tetap dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat.

Jadi, menambahkan madu ke teh, kopi, oatmeal, atau makanan lain bukan berarti kamu sedang “bebas gula”. Kalau takarannya kebanyakan, kalorinya juga tetap bisa menumpuk dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

3. Gula Merah

Selain gula aren dan madu, gula merah juga sering dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat.

Alasannya cukup masuk akal. Gula merah memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dari gula putih dan beberapa jenisnya memiliki indeks glikemik lebih rendah.

Sihir Pemanis Buatan di Balik Tren Low Sugar, Menkes: Manisnya Bisa Menjebak

Sejak beberapa tahun terakhir, masyarakat sudah mulai sadar terhadap gaya hidup sehat, salah satunya tercermin dari tren konsumsi rendah gula atau low sugar. Pola makan ini semakin Lanjutkan membaca

Gula merah juga masih mengandung sejumlah kecil mineral seperti kalsium, kalium, magnesium, dan zat besi. Namun, kandungan tersebut tidak lantas membuat gula merah menjadi superfood.

Melansir dari Halodoc, gula merah pada dasarnya tetap mengandung gula sederhana dan kalori. Jadi, meskipun indeks glikemiknya bisa lebih rendah, konsumsinya secara berlebihan tetap berpotensi meningkatkan kadar gula darah.

Dengan kata lain, jangan merasa “aman” hanya karena mengganti gula putih dengan gula merah.

Aman dikonsumsi

Gula aren, madu, dan gula merah boleh saja dikonsumsi. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan frekuensinya.

WHO merekomendasikan untuk konsumsi gula harian kurang dari 10 persen dari total energi harian. Bahkan, konsumsi kurang dari 5 persen atau sekitar 25 gram per hari untuk orang dengan kebutuhan energi 2.000 kalori dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Masalahnya, gula tambahan nggak cuma berasal dari satu sendok gula yang kamu masukkan ke kopi. Gula juga bisa datang dari minuman kekinian, dessert, saus, makanan kemasan, hingga topping yang sering dianggap sepele.

Jadi, kalau kamu masih suka kopi susu gula aren atau sesekali menambahkan madu ke makanan, sebenarnya nggak perlu langsung panik.

Yang penting, jangan terkecoh dengan kata “alami”. Karena mau gula aren, madu, maupun gula merah, kalau kebanyakan tetap saja gula.