Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gempa susulan masih berpotensi berlangsung sekitar 3-4 minggu ke depan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aktivitas kegempaan tersebut diperkirakan tidak berhenti secara tiba-tiba, melainkan berangsur-angsur menurun meski fluktuasi masih dapat terjadi.
Pj. Kendali Mutu Data Gempa dan Tsunami BMKG Pepen Supendi mengatakan hingga 27 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 8.193 gempa susulan.
Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,0.
Dari jumlah tersebut, 34 gempa bermagnitudo atas M5,0 dan 146 gempa dirasakan masyarakat. Secara umum, jumlah gempa susulan mulai menunjukkan pola penurunan,”
kata Pepen kepada Owrite, 28 Agustus 2026.
Potensi Gempa Susulan
Meski aktivitas mulai menurun, Pepen mengatakan potensi gempa susulan masih ada. Sebaran gempa susulan juga tidak merata dan membentuk sejumlah klaster di sekitar zona sumber gempa utama.
Salah satu konsentrasi utama berada di sekitar zona sumber gempa M7,7, sementara klaster lainnya terlihat terutama di bagian barat zona sumber. Dari waktu ke waktu, konsentrasi ini juga mengalami perubahan,”
ujarnya.
Menurut Pepen, kondisi tersebut menunjukkan kerak Bumi di sekitar sumber gempa masih mengalami proses penyesuaian setelah gempa utama.
Namun, keberadaan sejumlah klaster gempa tidak serta-merta menunjukkan adanya sumber gempa baru maupun menjadi indikasi pasti akan terjadi gempa besar di lokasi tersebut.
Namun, adanya beberapa klaster tidak berarti bahwa setiap klaster merupakan sumber gempa baru atau bahwa gempa besar pasti akan terjadi di klaster tersebut,”
tambahnya.
Ia menjelaskan, setiap klaster masih harus dikaji lebih lanjut dengan memperhatikan sejumlah parameter kegempaan, seperti lokasi hiposenter, kedalaman, mekanisme sumber, serta keterkaitannya dengan struktur sesar aktif di wilayah tersebut.
BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan ini dapat berlangsung sekitar 3-4 minggu, tetapi bukan berarti setelah 3-4 minggu gempa akan berhenti secara tiba-tiba. Secara umum aktivitas akan berangsur-angsur berkurang, meskipun fluktuasi masih mungkin terjadi,”
jelasnya.
Pepen menegaskan jumlah gempa susulan tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk memastikan akan atau tidaknya terjadi gempa besar berikutnya.
Begitu pula dengan tren penurunan aktivitas gempa tidak dapat diartikan sebagai jaminan bahwa gempa besar tidak akan terjadi.
Yang juga penting, banyaknya gempa susulan tidak otomatis berarti akan terjadi gempa besar berikutnya. Demikian pula, ketika jumlah gempa mulai berkurang, hal tersebut juga tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa gempa besar tidak akan terjadi,”
tandasnya.




