Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Tengah Janang Firman Palanungkai bantah pernyataan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat yang menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak terjadi di wilayah konsesi perusahaan.
Janang mengatakan Walhi justru menemukan sejumlah titik hotspot berada di dalam konsesi perusahaan. Temuan itu berdasarkan hasil identifikasi dan pemantauan di lapangan.
Ini ada di konsesi temuan kami. Titik hotspotnya cukup tinggi di beberapa konsesi,”
kata Janang dalam konferensi pers Walhi, dikutip pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut Janang, temuan tersebut berbeda dengan pernyataan Menteri LH yang sebelumnya menyebut tidak ada karhutla di wilayah konsesi.
Ia menilai perbedaan data tersebut perlu menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.
Lebih lanjut, Janang menyebut sejumlah konsesi yang terpantau memiliki titik hotspot cukup tinggi. Di antaranya PT Global Indo Agung Lestari dengan 3.014 titik, PT Mulia Agro Permai 3.110 titik, PT Arjuna Utama Sawit 982 titik, PT Tapiana Denggan 241 titik, dan PT Binasawit Abadi Pertama 142 titik.
Untuk sektor Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), Walhi mencatat PT IEP Industrial Forest Plantation memiliki 2.982 titik hotspot, PT Kalteng Green Resources 1.948 titik, Borneo Iksan Sejahtera 408 titik, Baratama Putra Perkasa 294 titik, dan Simon Agro 227 titik.
Janang juga mempertanyakan langkah penegakan hukum terhadap perusahaan yang wilayah konsesinya terpantau memiliki titik hotspot.
Kenapa enggak ditindak tegas? Artinya Gakkum Kehutanan pun hari ini masih ragu-ragu,”
ujarnya.
Pernyataan Janang itu menambah perbedaan pandangan mengenai lokasi karhutla 2026. Sebelumnya, Jumhur Hidayat menyebut tantangan terbesar karhutla saat ini lebih banyak berada di wilayah open access atau lahan terbuka, sementara kebakaran di kawasan konsesi disebut dapat ditekan.





