Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menyoroti kasus seorang pemuda berinisial LM (20) di Dusun Nggolonio, Kabupaten Nagekeo, yang ditemukan meninggal dunia di sekitar tenda pengungsian pada Kamis, 20 Agustus 2026.
LM diduga mengalami depresi berat dan kecemasan akibat gempa susulan yang terus terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Netty meminta pemerintah memperkuat layanan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial bagi warga di lokasi pengungsian.
Kasus meninggalnya seorang pemuda di belakang tenda penampungan karena diduga depresi harus menjadi alarm bagi pemerintah,”
kata Netty, Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurutnya, tekanan akibat gempa, termasuk gempa susulan yang terus terjadi, dapat memicu kecemasan hingga gangguan psikologis berat.
Kondisi itu tidak hanya mengancam warga yang kehilangan tempat tinggal. Namun, juga mereka yang berada di lokasi pengungsian dalam waktu lama.
Menurut Netty, kasus tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak selalu terlihat dalam bentuk luka fisik. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak sekaligus memastikan akses terhadap layanan kesehatan jiwa.
Ia mengatakan persoalan tersebut juga telah disampaikannya dalam rapat kerja bersama Menteri Kesehatan. Netty meminta dukungan psikososial dan kesehatan jiwa diperkuat dalam penanganan pascagempa di Flores, NTT.
Beban psikologis, lanjut dia, juga dapat dialami tenaga kesehatan, Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK), dan relawan yang bekerja di tengah situasi bencana. Tekanan kerja dan beratnya misi kemanusiaan berisiko memengaruhi kondisi fisik maupun mental para petugas.
Sering kali nakes dan relawan juga ikut menanggung beban mental,”.
ujarnya
Karena itu, fasilitas kesehatan jiwa bagi para petugas dinilai perlu diperkuat bersamaan dengan layanan untuk masyarakat.
Netty juga mengingatkan pemerintah agar keselamatan tenaga kesehatan, Tim SAR, dan relawan tidak diabaikan. Sistem perlindungan bagi petugas harus disiapkan agar operasi kemanusiaan tidak justru menambah korban dari unsur penolong.
Pemerintah juga harus memberikan edukasi kepada semua relawan yang bertugas untuk memastikan bisa menyelamatkan diri sendiri dulu sebelum menyelamatkan orang lain,”
katanya.
Di sisi lain, Netty menyoroti kebutuhan pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan layanan darurat, tetapi harus segera memulihkan puskesmas dan rumah sakit yang rusak akibat gempa.
Ia juga mengingatkan potensi masalah kesehatan lain di pengungsian, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, gangguan gizi, hingga penyakit yang berkaitan dengan keterbatasan air bersih dan sanitasi.
Netty mengapresiasi pengiriman 206 TCK oleh Kementerian Kesehatan yang dijadwalkan bertugas selama 14 hari di enam wilayah terdampak berat, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Namun, ia menekankan para petugas tetap harus bekerja dalam kondisi aman dan memperoleh waktu istirahat yang cukup.
Dalam situasi bencana, kehadiran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan,”
kata Netty.
Namun, pengabdian tidak boleh membuat keselamatan petugas diabaikan. Netty mendorong pemerintah memperkuat sistem TCK agar dapat dimobilisasi cepat ketika bencana kembali terjadi.
Menurutnya, kesiapsiagaan kesehatan harus dibangun melalui rencana kontingensi, tenaga cadangan, logistik, dan fasilitas pendukung yang memadai.
Bencana bisa datang kapan saja,”
tutur Netty.
Maka itu, menurut Netty, kesiapan sistem kesehatan harus dibangun sebelum bencana terjadi, bukan baru diperkuat setelah korban berjatuhan.






