Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan sebagian masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memilih pengobatan tradisional untuk menangani korban gempa.

“Budaya masyarakat di NTT masih percaya pada pengobatan tradisional, sehingga banyak kasus patah tulang lebih memilih perawatan tradisional dibandingkan perawatan medis profesional,”

kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Kamis, 27 Agustus 2026. 

Pilihan terhadap pengobatan tradisional menjadi persoalan ketika korban mengalami cedera yang membutuhkan penanganan medis. Terlebih, kasus trauma menjadi salah satu jenis cedera yang banyak ditemukan.

“Kasus terbanyak adalah trauma kepala, trauma dada, serta patah tangan dan kaki akibat gempa,”

ujar Budi.

Identifikasi

Kondisi tersebut membuat penanganan korban tidak hanya bergantung pada ketersediaan rumah sakit dan tenaga kesehatan. Pemerintah juga harus memastikan korban yang membutuhkan pertolongan medis bisa teridentifikasi dan mendapat penanganan sesuai kondisi.

Budi mengatakan penanganan pasien menjadi prioritas pada dua pekan pertama setelah bencana. Seluruh fasilitas dan tenaga kesehatan ditugaskan melakukan triase awal untuk memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatan.

Pasien kategori “merah” dan “kuning” harus segera ditangani atau dirujuk, sedangkan pasien kategori “hijau” diarahkan untuk mendapat layanan di Puskesmas atau posko pengungsian. 

Skema ini dilakukan agar fasilitas rujukan tidak terbebani pasien dengan kondisi yang masih dapat ditangani pada tingkat layanan dasar.

Namun, persoalan akses juga sempat menjadi kendala. Budi mengakui sejumlah fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi karena kekurangan tenaga kesehatan yang bisa masuk hingga ke desa-desa terdampak.

“Ada kendala beberapa fasilitas kesehatan benar-benar tidak bisa beroperasi karena kekurangan SDM untuk masuk ke desa-desa, sehingga banyak pasien kategori ‘merah’ ‘yang merawat diri secara mandiri di rumah,”

kata Budi.

Mobilisasi Nakes

Pemerintah mengerahkan tenaga kesehatan untuk menjangkau korban hingga tingkat desa. Dalam satu pekan, 300 tenaga kesehatan telah dimobilisasi ke lokasi bencana, termasuk dokter spesialis ortopedi dan bedah yang disesuaikan dengan karakteristik cedera.

Kemenkes juga mengandalkan sistem rujukan untuk menangani pasien dengan kondisi berat. Pasien kategori “merah” dan “kuning” dievakuasi menggunakan berbagai sarana, termasuk dukungan helikopter Basarnas, menuju rumah sakit rujukan.

Budi mengatakan dari tujuh kabupaten terdampak, dua rumah sakit berhenti beroperasi total yakni di Nagekeo dan Manggarai. Maka, Kemenkes mengoperasikan rumah sakit lapangan di Ruteng dan Nagekeo untuk melayani pasien triase “merah” dan “kuning”.

Data BNPB yang dipaparkan Budi menunjukkan gempa NTT berdampak terhadap sekitar 1,9 juta orang. 105 orang meninggal dunia dan sekitar 179.000 orang mengungsi di 444 titik pengungsian.