PSSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Erick Thohir kembali mengulang masa suram 12 tahun lampau menyusul kegagalan Timnas Indonesia menembus semifinal ASEAN Championship 2026—sebelumnya dikenal sebagai Piala AFF.

Kegagalan tersebut memperpanjang catatan buruk Indonesia di ASEAN Championship. Kali kedua secara beruntun, Garuda harus tersingkir sebelum mencapai semifinal yakni kali ini dan pada 2024 masih berada di bawah arahan pelatih Shin Tae-yong.

Catatan tersebut membuat Indonesia kembali mengulangi salah satu pencapaian terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan dalam turnamen sepak bola terbesar Asia Tenggara.

Materi Pemain Mewah

Pengamat sepak bola, Akmal Marhali, berpendapat kegagalan ini merupakan hal yang perlu dievaluasi total oleh PSSI. Tidak hanya staf pelatih saja, melainkan juga harus hasil buruk yang didapat pada ajang ini.

“Dua kali gagal lolos dari fase grup Piala AFF, dengan materi pemain yang menurut saya merupakan salah satu yang termewah dan terbaik sepanjang sejarah. Ini menjadi pukulan telak,”

kata Akmal kepada owrite.id, Senin, 10 Agustus 2026.

“Dari sisi nama-nama pemain, ini adalah salah satu skuad terbaik sejak 1996, termasuk dengan melibatkan banyak pemain naturalisasi. Tetapi ternyata (Indonesia) masih tidak bisa berbuat banyak di Asia Tenggara,”

tambah dia.

Hasil ini seharusnya bisa membuat PSSI lebih mawas diri. Akmal melihat ada kecenderungan sebagian orang menganggap Indonesia sudah berada di level dunia. Faktanya, Timnas Indonesia belum bisa konsisten menang melawan Vietnam, Singapura, apalagi kalau nanti bertemu Thailand.

Artinya, level sepak bola Indonesia, khususnya tim nasional, belum berada pada standar yang dinginkan. Prestasi masih fluktuatif, terutama dalam konteks Asia Tenggara.

“Karena itu, Indonesia tidak boleh jemawa. PSSI harus introspeksi diri bahwa ternyata level sepak bola Indonesia belum lebih baik daripada Thailand, Vietnam, Singapura, ataupun Malaysia, jika bicara konteks prestasi,”

ujar Akmal.

Bagaimana tidak, di ajang Piala AFF ini, Thailand sudah tujuh kali juara, disusul Singapura (empat kali) Vietnam (tiga kali), dan Malaysia (satu kali). Indonesia memang sudah beberapa kali mencapai final, tetapi berkali-kali pula hanya menjadi runner-up.

“Jangan kemudian menganggap remeh Piala AFF hanya karena itu bukan agenda FIFA. Ketika Indonesia mengikuti sebuah kejuaraan, seharusnya punya target yang dicanangkan, apalagi untuk level kompetisi tertinggi di Asia Tenggara,”

jelas Akmal.

Kegagalan Kolektif

Kegagalan ini tidak bisa hanya dibandingkan dengan era sebelumnya, misal dengan mengatakan bahwa era John Herdman lebih baik atau lebih buruk daripada era Shin Tae-yong. Fakta tersaji ialah di awal era Shin Tae-yong pun Indonesia pernah mengalami kekalahan besar, termasuk kalah 0-4 dari Vietnam.

Jadi kegagalan, lanjut Akmal, lolos ke semifinal Piala AFF ini merupakan kegagalan kolektif dan PSSI juga harus bertanggung jawab. Selama ini PSSI sudah sangat percaya diri dengan program naturalisasi. Fakta di level Asia Tenggara berbanding terbalik: program naturalisasi belum memberikan hasil maksimal.

“Mau sampai kapan naturalisasi ini dilakukan? Sementara ada fondasi yang harus diperkuat tetapi justru ditinggalkan, yaitu pembinaan usia muda dan pembinaan di level grassroots,”

ucap Akmal.

“Saya berpegang pada konsep bahwa Tim Nasional yang kuat lahir dari pembinaan yang hebat dan kompetisi yang sehat, bukan semata-mata melalui jalur naturalisasi,”

tambah dia.

Evaluasi Naturalisasi

Program naturalisasi ini juga harus dievaluasi. Para pemain yang dianggap top karena pernah bermain di Eropa ternyata level permainan mereka belum tentu mampu mengangkat prestasi tim nasional secara signifikan.

Dengan materi pemain naturalisasi yang dimiliki saat ini, ternyata sampai sekarang Timnas Indonesia belum mampu membawa Timnas Indonesia meraih gelar juara Piala AFF.

“Terlihat ketika melawan Vietnam, dalam kondisi yang sangat miris, (Indonesia) kalah 0-3, bahkan di kandang sendiri, dengan permainan yang menurut saya monoton. Padahal skuad sangat mewah tapi minim kreasi untuk mencetak gol,”

ucap Akmal.

Pernah Terjadi

Kegagalan beruntun pada 2012 dan 2014 terjadi dalam periode kepemimpinan PSSI yang berbeda dengan kondisi sepak bola nasional saat ini. Pada kedua turnamen tersebut, PSSI berada di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin.

Sementara itu, kegagalan Indonesia pada ASEAN Championship 2024 dan 2026 terjadi ketika PSSI dipimpin Erick Thohir—ia mulai menjabat sebagai Ketua Umum PSSI pada Februari 2023.

Artinya, selama periode kepemimpinan Erick Thohir, Timnas Indonesia belum berhasil menembus semifinal ASEAN Championship.

Indonesia terakhir kali berhasil mencapai semifinal Piala AFF pada edisi 2022. Saat itu, PSSI masih dipimpin Mochamad Iriawan alias Iwan Bule. Skuad Garuda mampu melewati fase grup dan melanjutkan perjalanan ke babak semifinal.

Sementara itu, penampilan terakhir Indonesia di partai final terjadi pada edisi 2020. Pada turnamen tersebut, PSSI juga masih berada di bawah kepemimpinan Iwan Bule.

Sangat Berbeda

Kegagalan Indonesia pada Piala AFF 2012 dan 2014 memiliki latar belakang yang berbeda. Pada 2012, sepak bola nasional sedang menghadapi persoalan dualisme yang berdampak langsung terhadap persiapan Timnas Indonesia.

Skuad yang ketika itu ditangani Nil Maizar tidak dapat diperkuat sejumlah pemain terbaik Indonesia. Hasilnya, Indonesia bermain imbang 2-2 melawan Laos, kemudian menang tipis 1-0 atas Singapura, sebelum akhirnya kalah 0-2 dari Malaysia. Hasil tersebut membuat Indonesia gagal mencapai semifinal

Dua tahun kemudian, Indonesia kembali gagal melewati fase grup. Kondisi tersebut terjadi ketika persoalan dualisme sepak bola nasional baru saja berakhir.

Situasi berbeda terlihat pada era kepemimpinan Erick Thohir. Ketika Indonesia gagal melaju ke semifinal pada 2024 dan 2026, kondisi organisasi sepak bola nasional relatif lebih stabil dibanding periode 2012.

Pada ASEAN Championship 2024, Indonesia bahkan memilih mengandalkan pemain U-23. Sedangkan pada edisi 2026, John Herdman membawa komposisi pemain yang lebih berpengalaman dengan mayoritas berasal dari kompetisi domestik atau Super League.

Kegagalan di ASEAN Championship 2026 menjadi pekerjaan rumah bagi PSSI dan tim pelatih Timnas Indonesia.

Ekspektasi terhadap Garuda cukup tinggi karena skuad yang dibawa ke turnamen dinilai memiliki kualitas lebih baik dibanding edisi 2024.

Namun, hasil akhir menunjukkan Indonesia kembali harus berhenti di fase grup. Dengan demikian, PSSI perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar kegagalan dua edisi beruntun ini tidak kembali terulang pada turnamen ASEAN Championship berikutnya.

Deretan Kegagalan Timnas Indonesia di Era Erick Thohir:

  • Gagal Round 4 Piala Dunia 2026
  • Gagal di Piala AFF U-23
  • Tidak Lolos Asian Games
  • Gagal di SEA Games 
  • Tidak Lolos di Piala Asia U-23
  • Gagal di Piala Dunia U-17
  • Gagal di Piala AFF 2026