Perdebatan mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto kini melebar, dari substansi kebijakan ke persoalan etika komunikasi pejabat negara. 

Pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya yang merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal justru menuai kritik balik dari kalangan akademisi.

Analis Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Faisal Sallatalohy, menilai respons Teddy tidak menjawab inti persoalan yang disampaikan Dino, terkait frekuensi perjalanan luar negeri Presiden selama satu setengah tahun terakhir.

Teddy Sebut Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sistem ‘Pay My Own’: Rombongan Maksimal 60 Orang

Sekretaris Kabinet RI Teddy Indra Wijaya merespons kritik dari mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Lanjutkan membaca

Menurut Faisal, kritik Dino seharusnya dijawab dengan data, argumentasi, dan penjelasan kebijakan, bukan dengan menyinggung latar belakang pribadi pengkritik.

Seskab Teddy wakili pemerintah jawab kritik Dino Patti Djalal atas frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo selama 1,5 terakhir yang menurutnya sudah melampaui batas wajar,”

kata Faisal kepada Owrite.id, Selasa, 2 Juni 2026.

Cenderung Mendiskreditkan

Ia menyoroti pernyataan Teddy yang menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri yang hanya berlangsung tiga bulan.

Teddy memulai dengan pernyataan yang sangat tidak negarawan, cenderung mendiskreditkan karakter dan melemahkan kompetensi pribadi Dino sebagai pengkritik,”

ujarnya.

Menurutnya, kalimat yang disampaikan Teddy lebih menyerupai serangan terhadap individu dibanding bantahan terhadap substansi kritik yang disampaikan.

Kalimat Teddy ‘beliau Pernah menjadi wamenlu, meskipun hanya diberi kesempatan 3 bulan’. Secara politis, kalimat tersebut tampak sebagai ad Hominem halus. Memulai dengan langsung mendiskreditkan kredibilitas pribadi daripada menjawab substansi kritikan,”

tegasnya.

Faisal menilai, narasi tersebut berpotensi menggeser perhatian publik dari isu utama yang dipersoalkan, yakni efektivitas dan urgensi kunjungan luar negeri Presiden.

Teddy berupaya memprovokasi, mendorong perhatian publik untuk menyoroti Dino yg tidak cukup pengalaman, hanya 3 bulan jabat wamenlu. Tidak cukup kredibel, tidak kompeten menilai dan mengomentari frekuensi serta kebutuhan politik kunjungan Prabowo secara profesional,”

ucapnya.

Kompetensi Teddy Dipertanyakan

Faisal kemudian mempertanyakan dasar kompetensi yang digunakan oleh Teddy untuk menilai kritik Dino.

Pertanyaannya, apakah kompetensi Teddy jauh lebih baik dari Dino? Apakah pengetahuan dan pengalaman Teddy lebih layak dibanding Dino?,”

tanya Faisal.

Faisal menegaskan, Dino Patti Djalal memiliki rekam jejak panjang dalam dunia diplomasi Indonesia yang sulit diabaikan.

Wih.. Harta Kekayaan Seskab Teddy Naik Drastis, Segini Angkanya

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah merilis harta kekayaan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya periode 2025. Tercatat harta kekayaan Teddy mengalami kenaikan mencap Lanjutkan membaca

Kita tahu, Dino memiliki rekam jejak yang sangat mumpuni dalam konteks diplomasi dan polugri sejak bergabung dengan Kemenlu tahun 1987,”

tegasnya lagi.

Pengalaman Dino, sambungnya, tidak hanya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, tetapi juga pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat serta memegang berbagai posisi strategis di bidang diplomasi.

Selain menjadi wamen, juga sebagai dubes Indonesia untuk Amerika. Kepala bidang politik Indonesia di Washington DC, jubir P3TT dan masih banyak lagi. Termasuk 3 kali diberi penghargaan tinggi negara karena prestasi diplomasinya,”

tutup Faisal.

Karena itu, ia menilai perdebatan mengenai kunjungan luar negeri Presiden semestinya difokuskan pada manfaat, efektivitas, serta dampaknya bagi kepentingan nasional, bukan pada upaya mempertanyakan kapasitas pribadi pihak yang menyampaikan kritik.